Laporan Akhir Kegiatan
Tugas Luar Kelas CB Agama
CBDC - TFI
Character
Building Agama
WAWANCARA TOKOH AGAMA
WAWANCARA PERSPEKTIF
TOKOH AGAMA TERHADAP AGAMA ALIRAN RADIKAL
Identitas Kelompok
NIM
|
Nama
|
Jabatan
|
2001584793
|
Dhea
Destiana Putri
|
Ketua
|
2001552974
|
Grezelda Cordelia
|
Anggota
|
2001591211
|
Rani
Puspa Yani
|
Anggota
|
2001574432
|
Refinia
Astuti
|
Anggota
|
Kelas
|
LA62
|
BINUS
UNIVERSITY
2017
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
HALAMAN PENGESAHAN
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Permasalahan
1.3. Rencana Kegiatan
1.4. Tujuan dan Manfaat Kegiatan
BAB II METODE KEGIATAN
BAB III
KONSEP
3.1.
Nilai Agama
BAB IV PELAKSANAAN KEGIATAN
BAB V KESIMPULAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia
adalah negara kesatuan dengan semua ragam budaya berbeda dan plural. Semua itu
meliputi kebudayaan, ras, suku, pulau, bahasa, adat istiadat, tak terkecuali
juga sesuatu seperti agama dan kepercayaan. Berdasarkan survey ..., tercatat
bahwa Indoneisa memiliki 714 suku dengan kepercayaannya masing – masing, serta
6 agama yang diakui di nusantara, yaitu agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha,
Hindu, dan Konghucu.
Radikal1/ra•di•kal/ merupakan
paham atau aliran yang menginginkan
perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau
drastis. Radikalisme/ra·di·kal·is·me/ paham atau aliran yang menginginkan
perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan (KBBI
Online).
Maka, dapat diartikan bahwa radikal
merupakan pemaksaan terhadap seseorang yang awalnya bertentangan dengan tujuan
sang pelaku, hal ini bisa menyertakan ancaman secara verbal, ancaman
non-verbal, atau tindakan destruktif yang merugikan lingkungan sekitarnya.
Radikal tidak menutup kemungkinan
untuk tumbuh di lingkungan masyarakat manapun termasuk Indonesia yang memiliki
banyak sekali kepulauan serta masyarakat dengan perspektif yang beragam. Meskipun
tidak semua organisasi radikal menampilkan dirinya secara gamblang, namun hal
ini dinilai cukup mengkhawatirkan lantaran dapat mengancam ideologi bangsa
Indonesia, yaitu Pancasila.
Pada kesempatan ini, melalui mata
pelajaran Character Building: Agama
yang diselenggarakan oleh Universitas Bina Nusantara, penulis mencoba untuk
mengulik tema seputar radikalisme melalui kegiatan wawancara terhadap tiga
tokoh agama dari agama yang berbeda, yaitu seorang pendeta dari agama Kristen,
seorang biksu dari agama Buddha, dan seorang ustad dari agama Islam.
1.2 Permasalahan
Di zaman sekarang ini pertumbuhan
teknologi telah berkembang pesat sehingga mempermudah masuknya informasi dan
komunikasi. Akibat pergembangan ini, berbagai macam informasi negatif pun dapat
masuk dengan mudah, tidak terkecuali dengan ajaran berbau radikal yang sudah
ada di Indonesia. Berbagai tokoh berpengaruh menggunakan ajaran garis keras
demi kepentingan masing-masing. Dengan berkembangnya ajaran radikal, para
penganutnya mendoktrin bahwa hanya kepercayaan merekalah yang paling benar,
menyebabkan tertutupnya pandangan mereka akan toleransi antar orang dengan
kepercayaan yang berbeda dan retaknya pedoman bhineka tunggal ika.
Setiap agama memiliki perspektif
tersendiri, mereka berbeda dan plural. Saat ini Indonesia dilanda krisis
toleransi yang mulai menunjukkan dirinya secara gamblang dimuka umum. Pada
situasi seperti ini sangatlah mudah bagi perpecahan untuk timbul. Pada beberapa
kesempatan, agama beraliran radikal kerap mengambil peran guna mewujudkan
tujuannya. Hal ini yang patut diwaspadai oleh bangsa Indonesia sebagai penganut
ideologi Pancasila dan Bineka Tunggal Ika. Melalui kegiatan ini, kami berharap
dapat menemukan jawaban dalam mengatasi permasalahan ini melalui tokoh tokoh
agama yang berbeda.
1.3 Rencana Kegiatan
Rencana kegiatan pertama, kami
ber-4 mendiskusikan kegiatan apa saja yang akan kami lakukan. Setelah itu, kami
sepakat untuk mengunjungi beberapa tokoh agama yang kami tunjuk sebagai
narasumber. Kami menargetkan 4 tokoh agama yang akan diwawancarai, yaitu tokoh
agama Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha dengan tujuan untuk mengetahui
pandangan tokoh agama terhadap aliran agama radikal, mengetahui dampak dari
munculnya aliran agama radikal dan cara untuk mencegah penyebaran radikalisme
tersebut. Kemudian, kami menentukan waktu yang tepat untuk melakukan wawancara
dengan para tokoh agama dan narasumber. Setelah itu, kami melakukan wawancara
tersebut.
1.4. Tujuan dan Manfaat Kegiatan
Masyarakat
Indonesia sebagian besar tidak mengetahui radikalisme secara lengkap dan pasti,
hal ini membuat mereka tidak bisa berpikir panjang dan menjadi sasaran empuk
sebagai pengikut aliran tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengulas
lebih dalam tentang agama beraliran radikal atau yang bisa disebut fanatisme
agama secara mendalam dengan informasi dari empat pemuka agama yang berbeda.
Penelitian
ini diharapkan mampu memberikan informasi penting dan berguna untuk orang awam
tentang kepercayaan mereka agar tidak mudah mengikuti segala sesuatu yang
bersifat keras, terlalu fanatik, menyimpang dari ajaran agama yang sebenarnya,
atau pemaksaan keyakinan terhadap seseorang. Pembaca diharapkan mampu memahami
berbagai perspektif positif yang dituturkan oleh para narasumber guna menangkal
perkembangan kepercayaan radikal serta mampu memeranginya dengan cara yang baik
tanpa ada jalan kekerasan.
BAB II
Metode Kegiatan
Metode
kegiatan yang kami gunakan adalah dengan cara mewawancarai tokoh agama. Adapun
kegiatan sebelum melakukan wawancara, yaitu:
- Menentukan agama apa saja yang akan kami
pilih sebagai narasumber
- Survey tempat
- Menghubungi tokoh-tokoh agama yang kami
pilih sebagai narasumber
-Mencari waktu yang tepat untuk
mewawancarai para tokoh – tokoh agama
- Membuat daftar pertanyaan untuk
wawancara
- Mengunjungi tempat dilakukannya
wawancara
BAB
III
KONSEP
Indonesia merupakan salah
satu negara yang memiliki banyak penduduk atau masyarakat dan setiap masyarakat
Indonesia menganut agama yang berbeda-beda. Di Indonesia, masyarakat Indonesia
menganut semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang berarti berbeda-beda tetapi tetap
satu. Hal ini terbukti bahwa seluruh
masyarakat Indonesia sangat menerima serta menghargai setiap perbedaan. Tetapi,
ada beberapa kelompok masyarakat yang tidak dapat menerima perbedaan dari
kelompok lain. Mereka sangat menentang perbedaan. Kelompok-kelompok masyarakat
ini menganut suatu aliran yang sangat bertentangan dengan Bhinneka Tunggal Ika.
Oleh karena itu, kelompok-kelompok masyarakat tersebut biasa disebut dengan
kelompok aliran radikal.
Nilai-nilai yang dibawa
oleh kaum radikalisme adalah sikap tidak peduli, tidak kompromi, dan tidak
toleransi terhadap kedamaian dalam hidup bersama. Radikalisme agama itu
melahirkan ideologi-ideologi lain, misalnya fundamentalisme agama, terorisme
agama, dan lain-lain. Sehingga, teknologi ini tertutup terhadap agama atau
kelompok lain yang tidak sepaham dengannya. Bahkan, seringkali kelompok
radikalisme agama ini tidak sepaham atau berkonflik dengan anggota-anggota yang
berada didalam kelompoknya sendiri, jika cara-cara kerja kelompok aliran
radikal ini dihalangi atau dihambat. Secara psikologis, Kelompok-kelompok radikalisme
ini tak segan-segan melakukan teror dan intimidasi kepada orang lain secara
fisik. Terdapat banyak alasan atau motif sebagai latar belakang yang
memunculkan gerakan radikalisme agama ini, yaitu faktor sosial politik dan
ekonomi, rasa emosi atau sentiment keagamaan, faktor budaya-etnis, dan faktor
ideologi keagamaan.
Permasalahan ini
sangatlah berpengaruh bagi kehidupan bangsa Indonesia. Jika hal ini terus
berkembang, Indonesia akan menjadi negara yang runtuh dan semboyan Bhinneka
Tunggal Ika ini tidak nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam hal
ini, tentunya bukan hanya kalangan pemerintah saja yang harus mengambil bagian
untuk mencegah dan mengatasi aliran radikal, namun seluruh rakyat harus juga
ikut terlibat dalam usaha tersebut, terutama para kaum pemudi-pemuda. Hal ini
dikarenakan kaum pemuda merupakan generasi penerus bangsa dan sekarang ini kita
semua wajib untuk terus menanamkan semboyan negara kita, yaitu Bhinneka Tunggal
Ika. Dalam mencegah atau mengatasi aliran radikal ini, harus ditanamkan kepada
umat, terutama kepada generasi muda mengenai ilmu pengetahuan dan keyakinan
yang kuat terhadap Tuhan. Karena radikalisme ini tidak mungkin bisa dicegah
hanya dengan kekuatan pasukan dan senjata semata. Sekalipun orang dari kelompok
aliran radikal itu meninggal, pemikiran dan doktrinnya tetap berkembang melalui
tulisan dan media-media lainnya. Karena, Di Indonesia ini banyak sekali
referensi yang menyebar doktrin radikalisme dengan alasan kebebasan berpendapat
dan berpikir.
Untuk menghindari
perkembangan aliran radikalisme ini, masyarakat Indonesia wajib menjaga
persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai anak
muda harus terus menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap masyarakatnya
khususnya ditanamkan dalam anak-anak yang masih dalam tahap pembentukan
pribadi.
BAB IV
PELAKSANAAN
KEGIATAN
Kelas
: Character Building Agama LA62
Dosen : Agus Masrukhin
Hari
: Rabu, 11 oktober 2017
Waktu : 19.20 – 21.00 WIB
Lokasi : Tempat kediaman Pendeta Hengky Kartamiharja
Anggota kelompok yang hadir :
1.
Grezelda Cordelia (2001552974)
2.
Dhea Destiana Putri (2001584793 )
3.
Refinia Astuti (2001574432)
4.
Rani Puspa Yani (20011591211)
Untuk
tugas CB agama ini, para dosen meminta kami untuk mewawancarai 3 para tokoh
agama dari berbagai agama. Tema wawancara harus berasal dari buku CB Agama Binus
University. Kami memutuskan untuk mewawancarai tokoh – tokoh agama dari agama
Kristen, Buddha, dan Katolik. Topik yang kami ambil untuk wawancara yang akan
kami lakukan dengan para tokoh agama adalah mengenai radikal. Kami memustuskan
untuk mengambil tema ini karena kami ingin mendalami hal – hal yang berkaitan
dengan radikal serta apa pandangan tokoh – tokoh agama mengenai Radikalisme.
Kami juga memutuskan untuk mengambil tema ini untk mengajarkan masyarakat
mengenai hal – hal yang berkaitan dengan Radikalisme. Pada pertemuan pertama,
kami memutuskan untuk terlebih dahulu mengunjungi tokoh agama dari agama
Kristen yaitu Pendeta Pak Pendeta Hengky Kartamiharja. Sebelum kami dengan Pak
Pendeta Hengky Kartamiharja pada tanggal 11 Oktober 2017, kami memutuskan untuk
menguhubungi beliau terlebih dahulu untuk mengatur jadwal survey kami dengan
beliau.
Pada
tanggal 11 Oktober 2017, kami memutuskan untuk mengunjungi rumah tokoh agama
Kristen yang akan kami wawancara. Pada pertemuan pertama ini, seluruh anggota
kelompok hadir yaitu Dhea Destiana Putri selaku ketua, Grezelda Cordelia,
Refinia Astuti dan Rani Puspa Yani. Pada pertemuan pertama ini, kami memutuskan
untuk hanya sekedar survey serta sekedar berbincang bersama dengan Pak Pendeta
Hengky Kartamiharja. Kami berangkat pada pukul 17.00 sore dari Kampus Binus
Anggrek. Sebenarnya perjalanan kami tidak terlalu jauh, tapi kemacetan di jalan
membuat perjalanan kami dari kampus hingga rumah pendeta tersebut cukup lama. Sebelum
kami menuju rumah pak Pendeta, kami memutuskan untuk berhenti di rumah salah
satu anggota untuk mengambil beberapa kepentingan wawancara seperti proposal
dan surat izin.
Setelah
itu, pada pukul 19.00, kami memutuskan untuk berangkat menuju rumah Pak Pendeta
Hengky Kartamiharja. Rumah Pak Pendeta Hengky Kartamiharja berada di Perumahan
Puri Metland yang terletak di daerah Tangerang. Pada pukul 19.20, kami sudah
sampai di tempat kediaman Pak Pendeta Hengky Kartamiharja. Beliau menyambut
kami dengan sangat hangat.
Selama
di tempat kediaman beliau, kami berbincang bincang singkat mengenai
Radikalisme. Kami juga sempat memberikan surat ijin kami kepada beliau untuk
memastikan bahwa kami memang diijikan oleh dosen kami untuk melakukan wawancara
ini.
Setelah kami berbincang – bincang dengan
Pak Pendeta Hengky, kami kembali mendiskusikan jadwal wawancara kami dengan
beliau. Kami memutuskan untuk melakukan wawancara pada hari Selasa 24 Oktober
2017. Setelah kami selesai berbincang dengan Pak Pendeta Hengky, kami memutuskan
untuk mengakhiri survey pada hari ini.
Pertemuan
2 Dialog dengan Tokoh Agama Buddha
Kelas
: Character Building Agama LA62
Dosen : Agus Masrukhin
Hari
: Minggu, 22
Oktober 2017
Waktu : 17.00 – 18.30
WIB
Lokasi : Vihara Ekayana Arama
Anggota kelompok yang hadir :
·
Dhea Destiana Putri (2001584793)
·
Grezelda Cordelia (2001552974)
·
Rani Puspa Yani (2001591211)
·
Refinia Astuti (2001574432)
Pada tanggal 22 Oktober 2017, kami melakukan wawancara di Vihara Ekayana
Arama yang terletak di daerah Tanjung Duren. Kami tiba di lokasi wawanara
sekitar pukul 5 sore, kemudian kami
diarahkan ke meja resepsionis untuk melakukan konfirmasi. Setelah melakukan
konfirmasi, kami menunggu giliran kami untuk melakukan wawancara. Pada pukul 6,
kelompok kami dipersilakan untuk melakukan wawancara dengan suhu. Selain
kelompok kami, ada pula tiga kelompok lain yang ikut melakukan wawancara
bersama. Hal ini dilakukan untuk mempersingkat waktu. Karena tema yang dipilih
setiap kelompok bermacam – macam, maka kami setuju untuk melakukan wawancara
bergiliran. Kelompok kami saat itu mendapatkan giliran terakhir setelah semua
kelompok pergi.
Berdasarkan wawancara yang kami lakukan dengan suhu, kami pun mendapat
kesimpulan bahwa di dunia ini semuanya seimbang, ada hitam ada putih, ada baik
ada buruk. Tidak selamanya sesuatu yang dilakukan itu seluruhnya baik atau
seluruhnya buruk. Begitu pula dengan radikalisme. Tidak selamanya radikalisme
itu buruk, walaupun cara yang digunakan terkadang terlalu ekstrem, namun
tujuannya belum tentu ke arah yang buruk (seperti aksi pembakaran diri sendiri
untuk menghentikan penindasan terhadap kaum tertentu). Meskipun begitu, ada baiknya
kita selalu merefleksi diri sendiri, apakah yang kita lakukan ini baik? Apakah
kita sebagai individu telah melakukan hal yang benar? Apakah saya sudah
menghargai orang lain? Hal ini tentu saja diperlukan untuk mencegah tumbuhnya
radikalisme ke arah yang kurang baik. Selain itu, ada pula karma yang bekerja
di dalam kehidupan ini, “kau akan menuai apa yang kau tanam”.
Kelas
: Character Building Agama LA62
Dosen : Agus Masrukhin
Hari
: Selasa, 24 Oktober 2017
Waktu : 14.00 – 15.33 WIB
Lokasi : Tempat kediaman Pendeta Hengky
Kartamiharja
Anggota yang hadir :
1.
Grezelda Cordelia (2001552974)
2.
Dhea Destiana Putri (2001584793 )
3.
Refinia Astuti (2001574432)
4.
Rani Puspa Yani (20011591211)
Pada
hari Selasa 24 Oktober 2017, kami memutuskan untuk mewawancarai Bapak Pendeta
Hengky di kediaman nya. Pada pukul 11.00, kami berangkat dari kampus Binus
Anggrek menuju ke rumah salah satu anggota terlebih dahulu. Ketika sampai di
rumah, disana kami mempersiapkan beberapa hal yang dibutuhkan saat wawancara
nanti seperti daftar pertanyaan. Lalu, pada pukul 13.00, kami memutuskan untuk
berangkat dari rumah menuju rumah Bapak Pendeta Hengky. Lalu, setelah sampai di
tempat, kami langsung melaksanakan wawancara.
Pertanyaan wawancara terdiri atas 9
pertanyaan. Tapi, dalam laporan kami, kami hanya mencantumkan beberapa hasil
dari wawancara yang sudah kami lakukan. Berikut ini adalah hasil wawancara kami
dengan Pak Pendeta Hengky :
1.
Apa
tanggapan Bapak mengenai Radikalisme ?
Ketika
kami menanyakan kepada beliau mengenai tanggapan beliau terhadap radikalisme,
beliau menjawab bahwa jelas ia tidak setuju dengan radikalisme. Karena
radikalisme itu memiliki tujuan utama yang sangat berbeda, dan tujuan tersebut
sangat tidak mendukung tujuan utama kita dalam berbangsa. Menurut Pak Pendeta
Hengky , orang – orang yang menganut aliran
radikalisme ini sudah dicuci otak dengan pemahaman radikal, sehingga mereka
susah untuk menerima pendapat lain. “Tanggapan saya kalau masih bisa sih ya,
diubah kembali pola berpikir mereka. Diajak untuk bersatu, kami punya sasaran
utama, jalur yang benar. Mari kita berbalik kembali. Tapi pada umum nya, mereka
itu punya pemahaman yang cukup radikal, keras sehingga sukar untuk itu. Jadi
biasanya sih memang yang terjadi pemisahan. Jadi tanggapan saya pribadi ya
tidak baik kalau orang berpikir radikal.”kata Pak pendeta Hengky ketika
diwawancara di kediaman beliau.
2.
Jika agama anda memiliki aliran dan ternyata aliran tersebut
mengandung paham radikalisme, apa respon anda terhadap aliran tersebut ?
Menurut Pak pendeta Hengky ketika kita menyadari adanya
aliran radikalisme dalam agama kita, kita harus secepat mungkin menghapus
pandangan tersebut. “Secepat mungkin kita harus mencoba untuk mengikis
pandangan yg mereka anut, ya sedini mungkin mengikis itu dan memasukkan
pandangan” yg benar. Tapi, sekali lagi orang – orang yang radikalisme itu ya konsep nya sudah
garis keras. Ya memang sudah susah.”kata Pak pendeta Hengky.
3.
Apakah ada hal positif dari aliran radikal ?
Menurut Pak Hengky, hal positif yang ada
didalam Radikalisme adalah radikalisme ini dapat mendorong kita untuk lebih
mengintrospeksi diri. Hal positif lain nya adalah radikalisme ini dapat
mendorong masyarakat untuk lebih terbuka terhadap masyarakat yang memiliki
aliran lain. “Dan hal lain yang menurut saya positif ialah mendorong misalnya
spr sekarang mendorong orang untuk sedini mungkin di dlm membangun kebersamaan
menuju tujuan bersama ini. Tidak hanya eksklusif, tapi berbaur gitu ya.”kata
beliau.
4.
Menurut
Bapak, apa yang harus kita lakukan untuk mencegah tumbuh nya/ muncul nya aliran
radikal tersebut ?
Menurut
Bapak Pendeta Hengky, hal paling utama agar kita dapat mencegah
tumbuhnya/muncul nya aliran radikal tersebut adalah kita harus mempunyai jiwa
besar untuk menerima pendapat, aliran, serta perbedaan dari setiap orang. Kita
sebagai manusia harus bisa menerima bahwa setiap pemahaman, aliran itu memiliki
kekurangan dan kelebihan. Sikap ini harus kita tanamkan sejak dari muda.
“Semuda mungkin sebetulnya harus ditanamkan bahwa semua orang adalah makhuk
sosial, tidak bisa hidup sendiri. Termasuk ajaran, kelompok, aliran itu tidak
bisa. Harus berinteraksi dengan yang
lain. Supaya bisa berinteraksi, maka tidak ada jalan lain kecuali berjiwa besar
unt menerima pemahaman yang berbeda dari diri nya. Itu yang penting.”kata
beliau.
Wawancara pun selesai pada pukul 15.00.
Setelah wawancara selesai, kami memberikan hadiah berupa buah – buahan kepada
beliau. Kami pun juga sempat makan bersama disana sebelum foto bersama. Sambil
makan bersama, kami sempat berbincang – bincang dengan beliau. Selesai makan,
kami memutuskan untuk mengambil foto bersama da langsung kembali kerumah.
Kesimpulan nya adalah bahwa kita tidak
boleh membiarkan Radikalisme itu berkembang dalam kehidupan kita dengan cara
kita harus memiliki jiwa yang besar untuk menerima perbedaan yang ada di
sekitar kita. Jika aliran – aliran radikalisme ini sudah mulai muncul dalam
agama kita, kita harus segera menghapus aliran tersebut. Tetapi, tidak
selamanya radikalisme membawa hal – hal negatif. Hal positif pun juga dapat
kita ambil dari radikalisme yaitu radikalisme ini dapat mendorong kita untuk
terus mengintrospeksi diri kita sendiri.
Pertemuan 4 Dialog
dengan Tokoh Agama Islam
Kelas
: Character Building Agama LA62
Dosen : Agus Masrukhin
Hari
: Jum’at,
8 Desember 2017
Waktu : 19.30 – 20.45
WIB
Lokasi : Tempat kediaman Pak Icin
Anggota yang hadir :
1.
Grezelda Cordelia (2001552974)
2.
Dhea Destiana Putri (2001584793 )
3.
Refinia Astuti (2001574432)
4.
Rani Puspa Yani (20011591211)
Agama Islam sering dikaitkan dengan
radikalisme lantaran banyak peristiwa yang melibatkan Islam sebagai identitas
pelaku. Akibatnya, tak sedikit yang menaruh pandangan buruk terhadap agama
mayoritas di Indonesia tersebut sehingga dinilai sebagai agama yang penuh
kekerasan. Penilaian ini kian kuat ketika peristiwa penistaan ayat suci umat
Islam yang berujung pada demo besar-besaran. Hal ini menyulitkan kami dalam
mecari narasumber karena topik yang dibawakan cukup sensitif, namun akhirnya
kami menemukan seorang ustad yang pengajarannya tidak berlandaskan radikalisme.
Bang Icin, begitulah sebutan
akrabnya. Wawancara dilakukan pada 08 Desember 2017 pukul 20:00 WIB dengan
mendatangi rumahnya yang terletak tidak jauh dari Kampus Bina Nusantara di
daerah Kijang. Wawancara dilakukan dengan menanyakan sepuluh pertanyaan secara
bergantian, dan menurut narasumber, perspektif nya terhadap radilkalisme adalah
keyakinan beragama yang pelaksanaannya dilakukan “terlalu” keras oleh seseorang
atau suatu umat. Kebanyakan ajaran yang diamalkan adalah ajaran terdahulu yang
masih kaku serta ajaran yang belum disesuaikan dengan kehidupan modern.
Berdasarkan
pertanyaan, sisi positif pada radikalisme berada pada kepercayaannya yang
sangat kuat terhadap Tuhan, dimana kepercayaan ini tidak dapat digoyahkan oleh
apapun. Jika kepercayaan ini dipegang teguh dengan benar, maka manusia akan
berlomba-lomba melakukan kebaikan dan menghindari segala larangan Tuhan. Namun
dalam radikalisme, kepercayaan ini tumbuh tanpa mempertimbangkan toleransi
antarumat, sehingga menganggap bahwa agamanyalah yang benar. Sisi negatif lain
dari radikalisme juga dapat menyebabkan perseteruan bahkan bisa sampai pada
tindak kriminal yang tentu dapat mengancam kedamaian antarumat beragama.
Cara pencegahan radikalisme yang
dijelaskan oleh narasumber adalah dengan memulai langkah dari ruang lingkup
yang kecil, yaitu melindungi keluarga dan diri sendiri. Paham radikalisme dapat
dicegah apabila masing-masing manusia melindungi keluarganya dari ajaran yang
mengandung radikalisme dengan mendeteksi bibit radikal pada lingkungan sekitar,
media sosial, pemikiran seseorang, dll. Jika salah satu anggota keluarga sudah
terjangkit paham radikalisme, setidaknya anggota keluarga lainnya mampu menangani
pemahaman radikalisme itu sedini mungkin dengan menjunjung ajaran Islam yang sebenarnya
karena Islam tidak pernah mengajarkan sesuatu hal yang buruk.
Selain itu mempersempit ruang lingkup penyebaran
ajaran radikal juga ampuh dalam memperkecil bahkan mengurangi radikalisme,
ibarat pedagang yang tidak mampu mendapatkan pembeli. Sayangnya, narasumber
menuturkan bahwa radikalisme ternyata tidak bisa dihilangkan. Itu adalah kodrat
dari Tuhan yang dipersiapkan untuk menguji seberapa kuat iman umatnya.
Pertemuan 5 Diskusi
Kelompok
Kelas
: Character Building Agama LA62
Dosen : Agus Masrukhin
Hari
: Jum’at,
15 Desember 2017
Waktu : 11.00 – 12.30 WIB
Lokasi : Kampus Binus Anggrek
Anggota yang hadir :
1.
Grezelda Cordelia (2001552974)
2.
Dhea Destiana Putri (2001584793 )
3.
Refinia Astuti (2001574432)
4.
Rani Puspa Yani (20011591211)
Pada hari
Jumat, 15 Desember 2017 kami melakukan diskusi kelompok untuk pembuatan laporan
akhir, dimana kami membagikan tugas masing-masing untuk dikerjakan. Tidak ada
kesulitan apapun dalam diskusi kelompok ini karena kami tinggal membagikan
tugas saja dan langsung mengerjakannya di kampus. Tetapi bagi yang belum
selesai, dilanjutkan di rumah masing-masing yang kemudian dikumpulkan dan
dibuatlah kedalam blog.
Refleksi diri
1.
Dhea
Destiana Putri
Refleksi:
Melalui kegiatan CB agama kali ini, saya melakukan wawancara terhadap tokoh
agama dengan tema radikalisme. Saya jadi dapat mengetahui bagaimana pandangan
radikalisme dari berbagai sudut pandang agama. Melalui kegiatan wawancara pula,
saya menjadi bisa lebih menghargai agama-agama lain.
Saran : Dalam kegiatan CB agama ini kita bisa
memilih 1 dari 3 kegiatan, yaitu wawancara tokoh agama, kampanye, dan
berkunjung ke panti jompo atau panti sosial. Menurut saya, kegiatan kampanye
itu susah untuk dilakukan untuk kami para mahasiswa, karena kampanye itu butuh
persiapan materi dan juga kesiapan diri kami, jadi menurut saya kalua kegiatan
kampanye itu terlalu susah.
Masalah
: Menentukan jadwal untuk mewawancarai para tokoh agama.
Solusi : Merundingkan waktu yang tepat untuk
melakukan wawancara.
2.
Grezelda
Cordelia
Radikalisme
merupakan paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial
dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Radikalisme ini tidak hanya
terjadi pada 1 agama saja, radikalisme bisa terjadi di dalam agama lain juga.
Melalui tugas luar CB Agama ini, saya jadi sadar bahwa kita sebagai masyarakat
Indonesia harus tahu Radikalisme itu apa serta pengaruh nya apa untuk kita.
Karena, perkembangan radikalisme ini sangat mempengaruhi kehidupan kita. Lewat
wawancara yang saya lakukan dengan kelompok saya, saya menjadi sadar bahwa
radikalisme itu tidak selalu membawa hal negatif. Radikalisme juga membawa hal
positif bagi kita yaitu masyarakat menjadi terdorong untuk mempertahankan
persatuan Indonesia. Rakyat semakin terdorong untuk menghargai perbedaan. Saya
berharap lewat blog kami ini masyarakat semakin sadar bahwa perbedaan itu
indah. Percuma jika salah satu kelompok dipaksa untuk menganut suatu hal yang
mereka tidak setujui. Jangan sampai Radikalisme itu berkembang di dalam
masyarakat.
3.
Rani
Puspa Yani
Dalam
refleksi diri atas apa yang sudah saya dan teman-teman saya laksanakan, secara
langsung atau tidak langsung kami mendapat berbagai hal baru yang belum kami
ketahui. Namun bagi saya, saya kembali mengungkap bahwa baik dalam agama
apapun, tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan perpecahan dan suatu
aliran yang bisa jadi akan mengancam nama agama mereka. Dari situ mereka
terlihat memiliki toleransi dan kesadaran yang kuat bahwa Indonesia (mau
bagaimana pun) adalah Negara yang tidak bisa ‘sama’.
Setelah
mengetahui dan memahami hal itu dari tiga perspektif berbeda masing-masing
tokoh agama, saya mulai mengitrospeksi diri saya, bahwa radikalisme memang
seharusnya dikenali dan dicegah, namun tidak pula harus dihujat. Saya juga jadi
mengerti bahwa radikalisme tidak hanya terjadi pada agama Islam, namun juga
agama lain. Untuk itu, saya mencoba untuk lebih berpikir luas dan tidak hanya
terpaku pada sisi negatif sesuatu. Banyak manfaat yang saya dapat seperti
caranya berinteraksi dengan umat agama lain, bagaimana menjaga pembicaraan dan
memaklumi ajaran mereka, serta mempererat silaturahmi yang dijalin dengan
toleransi beragama karena Indonesia adalah negara yang plural dan penuh
perbedaan.
4.
Refinia
Astuti
Setelah
melakukan kegiatan wawancara ini, saya mendengar berbagai macam pendapat orang
mengenai radikalisme agama. Saya mulai memahami bahwa yang menyebabkan
timbulnya radikalisme itu sendiri adalah karena kurangnya wawasan kita terhadap
agama masing masing. Hal inilah yang
kemudian menyebabkan kurangnya toleransi terhadap agama lain dan menyebabkan
radikalisme itu.
Indonesia
merupakan negara dengan berbagai macam agama, agar indonesia bisa bersatu
seutuhnya tentu perlu adanya toleransi, dan itu harus dimulai dari diri
sendiri. Oleh karena itu, saya akan terus mengintrospeksi diri saya agar saya
bisa lepas dari pandangan negatif yang merendahkan agama lain.
BAB V
KESIMPULAN
Setiap agama
memiliki perspektif tersendiri, mereka berbeda dan plural. Saat ini Indonesia dilanda
krisis toleransi yang mulai menunjukkan dirinya secara gamblang dimuka umum. Pada
situasi seperti ini sangatlah mudah bagi perpecahan untuk timbul. Pada beberapa
kesempatan, agama beraliran radikal kerap mengambil peran guna mewujudkan
tujuannya. Hal ini yang patut diwaspadai oleh bangsa Indonesia sebagai penganut
ideologi Pancasila dan Bineka Tunggal Ika.
Radikal merupakan pemaksaan terhadap seseorang
yang awalnya bertentangan dengan tujuan sang pelaku, hal ini bisa menyertakan
ancaman secara verbal, ancaman non-verbal, atau tindakan destruktif yang
merugikan lingkungan sekitarnya. Radikal tidak menutup kemungkinan untuk tumbuh di lingkungan masyarakat
manapun termasuk Indonesia yang memiliki banyak sekali kepulauan serta masyarakat
dengan perspektif yang beragam. Meskipun tidak semua organisasi radikal
menampilkan dirinya secara gamblang, namun hal ini dinilai cukup mengkhawatirkan
lantaran dapat mengancam ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.
Oleh karena itu, agar
terhindar dari aliran radikal, masing-masing manusia harus melindungi keluarganya
dari ajaran yang mengandung radikalisme dengan mendeteksi bibit radikal pada
lingkungan sekitar, media sosial, pemikiran seseorang, dll. Jika salah satu
anggota keluarga sudah terjangkit paham radikalisme, setidaknya anggota
keluarga lainnya mampu menangani pemahaman radikalisme itu sedini mungkin
dengan menjunjung ajaran Islam yang sebenarnya karena Islam tidak pernah
mengajarkan sesuatu hal yang buruk.














Komentar
Posting Komentar